AsliDomino Headphoneearphoneheadset, dan perangkat sejenis sangat akrab dengan kita. Biasanya, kita menggunakannya untuk mendengarkan musik atau menonton film. Saking asyiknya, kadang kita tak sadar telah memakainya selama berjam-jam dengan volume yang cukup kencang!

Mengingat betapa pentingnya menjaga kesehatan telinga, program Health Talk kali ini mengangkat tema “Kebiasaan Pakai Headphones, Bisa Rusak Gak Tuh Kuping?! 1. Batas aman untuk telinga adalah 80 desibel dengan durasi 40 jam per minggu

Tips Mendengarkan dengan Headphone tanpa Membuat Telinga Rusak

Pertama-tama, dr. Yonian menjelaskan pembagian paparan bising atau paparan suara berdasarkan lokasinya, yaitu occupational setting dan recreational setting.

Occupational setting adalah paparan suara atau bising di tempat kerja (kantor), sedangkan recreational setting adalah ketika kita di bar, club, konser, atau mendengarkan lagu dengan personal listening device.

Menurutnya, batas aman untuk occupational setting adalah 80-85 desibel, maksimal 8 jam sehari. Sementara untuk recreational setting, standarnya adalah 80 desibel dalam waktu 40 jam seminggu. Untuk kalangan sensitif seperti anak-anak atau lansia lebih rendah lagi, yaitu maksimal 75 desibel dengan durasi 40 jam per minggu. Ini adalah rekomendasi WHO yang bekerja sama dengan International Telecommunication Union (ITU).

2. Jangan mendengarkan dengan volume maksimal, cukup 60-65 persen saja

Tips Mendengarkan dengan Headphone tanpa Membuat Telinga Rusak

Kita sudah mengetahui batas aman desibel bagi telinga. Akan tetapi, bagaimana cara mengukur desibelnya? Menurut dr. Yonian, biasanya volume maksimal pada personal audio device (misalnya handphone, MP3 player, atau CD player) adalah 105-107 desibel.

Jadi, untuk mencapai batas aman 75-80 desibel, kita disarankan untuk mengatur volume sekitar 60-65 persen saja. Tidak dianjurkan mendengarkan dengan volume penuh atau hingga 100 persen untuk mencegah kerusakan telinga.

3. Pilih listening device dengan noise cancelling

Tips Mendengarkan dengan Headphone tanpa Membuat Telinga Rusak

Menurutnya, headphone on-ear (yang menempel di daun telinga) noise cancelling-nya kurang baik karena terkadang masih ada suara yang bocor ke telinga. Selain itu, telinga menjadi sakit karena sifatnya yang menekan daun telinga, sehingga kurang nyaman digunakan.

Justru, dr. Yonian lebih merekomendasikan headphone over-ear karena noise cancelling dan peredam suaranya paling bagus serta tidak menekan daun telinga. Rekomendasi lainnya adalah in-ear headphone yang masuk ke liang telinga dan menutup suara dari luar dengan silikon atau busa. Custom in-ear earphone juga direkomendasikan karena menyesuaikan dengan bentuk liang telinga kita.

4. Membatasi durasi mendengarkan genre musik tertentu

Tips Mendengarkan dengan Headphone tanpa Membuat Telinga Rusak

Ternyata, mendengarkan genre musik tertentu berisiko merusak telinga. Dokter Yonian mengutip sebuah penelitian yang membandingkan orang yang terpapar musik klasik dan suara bising. Keduanya terpapar dengan desibel dan jangka waktu yang sama. Hasilnya, telinga yang mengalami kerusakan adalah yang terpapar suara bising.

Penelitian yang lain membandingkan paparan telinga antara musik klasik dengan heavy metal. Seperti yang bisa ditebak, penelitiannya signifikan. Menurut dr. Yonian, orang yang terpapar musik dengan intensitas tinggi dalam jangka waktu tertentu memiliki kecenderungan mengalami kerusakan pada serabut-serabut saraf di telinga.

Kerusakan mungkin semakin parah jika musik keras didengarkan dengan headphone atau ear bud. Tak sedikit musisi yang mengalami gangguan pendengaran dan mengembangkan tinitus, kondisi di mana salah satu atau kedua telinga berdenging.

Lantas, bagaimana cara menikmati musik keras dengan aman? Pastikan volumenya tidak penuh dan perhatikan durasinya. Seperti yang sudah dijelaskan seebelumnya, tidak lebih dari 80 desibel maksimal 40 jam per minggu.

5. Tidak mengabaikan gejala yang muncul dan cek kesehatan telinga secara berkala

Tips Mendengarkan dengan Headphone tanpa Membuat Telinga Rusak

Yang terpenting adalah memiliki kepekaan ketika tubuh mengirimkan sinyal penanda terjadi sesuatu. Gejala yang paling sering muncul adalah telinga berdenging. Jika denging terjadi terus-menerus selama lebih dari 5 menit, bisa jadi itu adalah tanda awal kerusakan saraf.

Yang lainnya adalah cocktail party deafness, di mana kita sulit menangkap percakapan di lingkungan yang ramai karena ada background noise. Disarankan untuk cek kesehatan telinga (seperti tes audiometri) secara berkala, sekitar 6 bulan atau 1 tahun sekali.

Nah, itulah beberapa tips mendengarkan dengan headphone tanpa membuat telinga rusak. Jangan lupa diterapkan, ya. Jangan sampai kita mengalami kerusakan telinga, apalagi bila masih dalam usia produktif

By ichigo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *