AsliDomino – Situasi pandemik di Indonesia memang semakin membaik. Tapi, yuk please kita jaga bersama momentum ini agar pandemik segera berlalu di bumi nusantara ini. Caranya? Tentu tetap menjaga protokol kesehatan, terutama cuci tangan dengan sabun.

Webinar ini dihadiri oleh Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dr. Imran Agus Nurali SpKO dan Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI Dra Sri Wahyuningsih MPd. Serta Head of Skin Cleansing & Baby Unilever Indonesia Maulani Affandi.

Lalu ada juga perbincangan menarik dari para pembicara yaitu Dokter Spesialis Anak dr Kanya Ayu Paramastri SpA, Psikolog Saskhya Aulia Prima MPsi, dan Brand Ambassador Lifebuoy Titi Kamal yang memiliki kesimpulan bahwa cuci tangan tidak hanya terhindar dari virus COVID-19, tapi lebih dari itu. Penasaran isi perbincangannya? Eits, langsung saja simak di bawah ini ya!

1. Saat ini di Indonesia aktivitas kebiasaan cuci tangan turun lima persen

Topik perbincangan dimulai saat Maulani Affandi berbagi tentang kabar baik dan kabar yang patut diwaspadai. Kabar baiknya adalah Indonesia berada situasi yang cukup membaik dari sebelumnya. Namun, menurut penelitian dari John Hopkins, Maulani mengatakan, “pada Juli 2020 hingga Maret 2021 aktivitas rutin cuci tangan di Indonesia mengalami penurunan lima persen. Jelas hal ini berbahaya.”

Penurunan kebiasaan cuci tangan ini lah yang menjadi tanda kita harus waspada. Sebab, bukan tidak mungkin virus COVID-19 dan bakteri lainnya semakin hinggap di tubuh kita. Hal ini tentu berdampak serius pada kesehatan dan terutama anak-anak yang sedang dalam masa keemasannya.

2. Long COVID bisa terjadi pada 1 dari 4 anak yang pernah positif COVID-19

Perlu dipahami juga bahwa long COVID juga masih menjangkiti anak-anak. Seperti yang dikatakan oleh dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A bahwa 25 persen atau 1 dari 4 anak bisa mengalami long COVID. Lalu apa dampak dari long COVID? Bisa saja sang anak selalu merasakan sakit kepala, nyeri, atau penurunan kapasitas paru-paru, dan lain sebagainya.

”Hal ini tentu mengkhawatirkan. Tentu saja ini akan berpengaruh pada proses pembelajarannya nanti. Terus gimana agar long COVID tidak terjadi? Tentu hal yang paling pas adalah kita harus mencegah untuk tidak terinfeksi sedari awal dengan protokol kesehatan dan kebiasaan hidup bersih dan sehat,” tambahnya.

3. Kesehatan mental anak dimulai dari kesehatan fisik

Tak hanya long covid, tetapi kondisi yang tak menentu seperti ini juga patut terus waspada terhadap kesehatan keluarga atau anak. Apalagi pemerintah saat ini akan mewajibkan pembelajaran tatap muka pada November 2021. Tentu hal ini perlu persiapan yang matang dari orang tua dan sekolah.

”Dengan kesehatan fisik yang matang, tentu juga berpengaruh pada kesehatan mental agar menyerap ilmu dengan baik. Tak hanya dari orang tua, sekolah juga harus ada fasilitas untuk membantu sang anak cuci tangan dengan baik,” jelas Saskhya.

4. Ajarkan kebiasaan cuci tangan pada anak dengan cara yang asyik

Untuk memupuk kebiasaan bagi si Kecil sepertinya gak bisa diajarkan secara teori dan menyuruhnya. Seperti kata Saskhya, ”Anak sekarang semakin disuruh, malah semakin ngadi-ngadi”. Oleh karena itu, Titi Kamal berbagi cara untuk mengajarkan anaknya dengan cara bermain gim digital, menonton film, baca buku, lalu mempraktikannya di setiap kesempatan.

”Misalnya saja kita ada di fasilitas umum atau mall kita mengajak anak-anak untuk cuci tangan dengan baik. Atau misalkan saya baru pulang dari mana gitu saya bilang tuh kepada mereka kalau ‘Eits sebentar Mama belum cuci tangan dan mandi ya nanti dulu’. Nah hal itu bisa bikin sang anak bisa memahami maknanya,” jelas Titi Kamal.

5. Lifebuoy berkomitmen untuk terus beri edukasi dan fasilitas cuci tangan di sekolah

Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI Dra Sri Wahyuningsih MPd dalam keynote speech-nya mengatakan bahwa saat ini Kemendikbudristek mendorong untuk ada pembelajaran tatap muka di sekolah. Hal ini karena melihat banyakanya angka putus sekolah dan learning loss yang di depan mata serta pemunduran karakter karena minimnya interaksi. Namun hal lini perlu hati-hati dan kesiapan agar juga mementingkan kesehatan anak.

Nah, untuk terus menjaga kesehatan anak, Lifebuoy dengan programnya Aksi C untuk Cuci Tangan Demi Masa Depan yang sudah dilakukan sejak 2004 hingga saat ini telah menjangkau 105 juta tangan bersih dan 40.000 sekolah dan pesantren yang diberi edukasi dan fasilitas cuci tangan agar sang anak bisa melakukan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Dengan berbagai platform seperti ini tentunya edukasi bisa lebih efektif dan menyenangkan. Harapannya bisa membangun generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas,” jelas Maulani.

Hal ini disambut baik oleh Titi Kamal yang sebagai orang tua merasa terbantu dan senang dengan adanya media yang asyik untuk anak-anaknya bisa memupuk perilaku bersih dan sehat sejak dini dan mengerti arti penting menjaga kesehatan.

By ichigo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *